Rabu, 24 Juli 2019

LINK EKSTERNAL

jateng

bko


epju

Ditulis oleh Humas dan Protokol    Kamis, 24 Januari 2013 20:11    PDF Cetak Surel
MERIAH, SADRANAN DI JAMBON UNGARAN

HUMAS-UNGARAN : Pesta religi sadranan di Lingkungan Jambon Kelurahan Ungaran Kecamatan Ungaran Barat berlangsung meriah, Kamis Pon (24/1) pagi berlangsung meriah. Seratusan warga Jambon dan sekitarnya hilir mudik sejak pukul 06.00 meramaikan areal di sekitar pemakamam muslim Jambon. Tak hanya orang tua, anak-anak dan remaja pun ikut serta hadir pada acara rutin yang dihelat dua kali dalam kurun satu tahun itu. Mereka membawa aneka makanan dan minuman untuk dikumpulkan di salah satu rumah warga. Bermacam kudapan itu selanjutnya dibagikan kepada warga yang hadir usai doa bersama.

Sadranan di wilayah Jambon dilaksanakan rutin setiap Kamis Pon atau Kliwon di bulan Ruwah (Sya’ban) dan Mulud (Rabiul Awal).
Hadir pada acara itu Lurah Ungaran Agung Waskito dan para perangkat kelurahan lainnya. Sedangkan doa bersama dipimpin oleh Ustadz Zaenal Arifin.
Menurut Ustadz Zaenal Arifin, tradisi religi yang memiliki dasar Islami ini telah berlangsung lama. Meski berada di wilayah perkotaan, warga Jambon dan sekitarnya masih melestarikan tradisi ini. “Istilah sadranan ini memang bukan berasal dari ajaran Islam. Namun hakikat kegiatan ini sesuai ajaran Islam yakni birrul walidain atau berbakti pada orang tua dan leluhur,” jelas tokoh masyarakat yang akrab dipanggil kang Ipin ini.
Diterangkan, sikap bhakti seorang anak kepada orang tua tidak boleh berhenti meski telah wafat. Salah satunya dengan selalu mendoakan arwah orang tua yang telah meninggal dunia. Saat sadranan inilah, lanjutnya, para ahli waris atau anak  yang masih hidup berdoa bersama untuk kesejahteraan arwah para leluhur masing-masing.
Sementara itu Lurah Agung Waskita menghimbau warga untuk terus menguri-uri tradisi religi sadranan ini. “Salut kepada para warga yang tetap melaksanakan tradisi sadranan ini ditengah kemajuan jaman dan di wilayah perkotaan,” kata Agung.
Salah seorang warga, Junaedi (40) mendukung pelaksanaan sadranan di Jambon ini. Meski ada pandangan negatif tentang tradisi religi ini, namun menurutnya yang penting adalah hakikat kegiatan. Yakni mendoakan arwah orang tua yang telah meninggal dunai sebagai bagian dari bhakti seorang anak sholeh.(*/junaedi)

 
 

Berita dan Artikel

Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com