Rabu, 24 Juli 2019

LINK EKSTERNAL

jateng

bko


epju

Ditulis oleh Humas dan Protokol    Senin, 12 November 2012 14:03    PDF Cetak Surel
35 TAHUN BERTAHAN MERAWAT PRASASTI NGRAWAN

HUMAS-GETASAN : Rentang waktu lebih dari tiga dekade yang dihabiskan Juhartono (70), warga Dusun/Desa Ngrawan Getasan untuk merawat prasasti Ngrawan bukanlah tanpa arti. Baginya, tugas mulia itu tidak hanya sekadar tuntutan pekerjaan dari Balai Perlindungan Cagar Budaya (BPCB) Prambanan karena statusnya sebagai tenaga honorer. Lebih dari itu, “Saya menjaga sepenuh hati sebagai bagian dari tetenger desa dan memulyakan leluhur,” katanya polos saat dijumpai dirumahnya, Senin (12/11) siang.


Prasasti Ngrawan yang terletak kurang lebih dua kilometer dari pertigaan  Salaran di jalan raya Salatiga-Kopeng memang tidak setenar prasasti purbakala lainnya. Prasasti yang terdiri dari tiga buah batu, satu diantaranya tidak bertulis, konon kabarnya adalah peninggalan Kerajaan Mataram Hindu pada masa Raja Syailendra. “Kata petugas BPCB Prambanan yang pernah meneliti memang  seperti itu. Namun warga juga meyakini prasasti itu adalah tetenger atau penanda Desa Ngrawan sebelum pindah ke lokasi sekarang,” jelas  kakek 12 cucu.
Dari data BPCB Prambanan, prasasti berhuruf Pallawa itu terdiri dari empat baris. Menurut salah seorang petugas BPCB, Hasim, baris ketiga dan ketempat yang sudah bisa terbaca. “Isinya mengisahkan tentang perang untuk menyingkirkan golongan jahat dari dunia dan bertahun 1269 Saka,” terangnya saat dikonfirmasi via telepon.
Dikisahkan oleh Juhartono, saat itu Desa Ngrawan yang berada tepat di kaki Gunung Telomoyo mengalami musibah. Sebagian gunung Telomoyo longsor dan menimpa Desa Ngrawan yang berada di bawahnya. Lalu, Desa Ngrawan dipindahkan lokasinya ke tempat yang lebih aman seperti yang ada saat ini.
Karena dianggap sebagai peninggalan leluhur, setiap bulan Rajab pada hari Jum’at Wage atau Jum’at Legi, warga Desa Ngrawan melakukan ritual doa bersama (Bahasa Jawa : Selametan) di lokasi prasasti. Saat ini prasasti yang terletak di tengah persawahan warga telah diberi joglo pelindung dan berpagar besi. Di sebelah Utara dan Selatannya terdapat juga peninggalan bersejarah berupa dua batu yoni.
Kegiatan ritual itu, kata Juhartono, diisi dengan acara doa bersama dan mengumpulkan nasi tumpeng dari para warga. Setelah doa selesai, warga bersama-sama menikmati makanan yang tersedia. Tak ketinggalan, juga dilakukan pemotongan kambing betina sebagai bagian dari ritual. “Ritual itu dilakukan untuk menghormati leluhur desa agar seluruh warga diberikan keselamatan,” tambahnya yang dipercaya sebagai juru kunci prasasti oleh Kepala Desa Ngrawan sejak tahun 1977.
Prasasti Ngrawan juga menjadi inspirasi bagi warga untuk menciptakan kesenian tradisional asli yakni Tari Topeng Gecul. Tarian yang menampilkan atraksi penari bertopeng itu menjadi salah satu ciri khas Desa Ngrawan.
Kini, Juhartono masih setia merawat prasasti bersama anaknya dan didukung warga. Meski bayaran yang diterima setiap bulannya tidak sebanding dengan pekerjaannya, pria renta yang telah menjadi buyut ini tetap setia menjalankan tugasnya. Dia berharap anaknya bisa menjadi penerus tugasnya dan bisa diangkat sebagai pegawai tetap. “Pekerjaan ini lebih utama untuk menghormati leluhur desa agar diberi keselamatan dan kesejahteraan,” tegas Juhartono.(*/junaedi)

 
 

Berita dan Artikel

Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com