Selasa, 27 Juni 2017

Berita dan Artikel

Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

LINK EKSTERNAL

jateng

bko


epju

Ditulis oleh Humas dan Protokol    Selasa, 04 Oktober 2011 12:04    PDF Cetak Surel
SUKIMAN 40 TAHUN BERMAIN RODHAT

HUMAS-PABELAN : Inilah barangkali cinta mati Sukiman pada kesenian rodhat. Pria sepuh berusia 62 tahun asal Desa Kadirejo Kecamatan Pabelan ini telah menjadi pelakon kesenian rodhat selama lebih dari 40 tahun. “Saya hanya mewarisi kesenian ini dari para orang tua dan leluhur desa,” katanya lirih saat ditemui usai pentas memeriahkan upacara serah terima estafet tunas kelapa di halaman Kantor Kecamatan Pabelan, Selasa (4/10) siang.


Bersama 20 orang penari rodhat lainnya, saat itu Sukiman mengibarkan bendera kelompok rodhat “Harum Mawar” Desa Kadirejo. Diiringi tetabuhan berupa genderang, rebana, simbal dan alat kesenian tradisional pengiring rodhat lainnya, Sukiman masih luwes bergoyang mengikuti irama musik bersama penari lainnya. Hampir separuhnya adalah para pria lanjut usia sepantaran Sukiman. Sedangkan lainnya adalah perempuan-perempuan yang lebih muda. “Sebenarnya kami juga membimbing para penari laki-laki muda. Namun pada kesempatan tertentu, kelompok penari tua juga siap pentas langsung,” tambahnya.
Menurut Sukiman, kesenian rodhat telah ada jauh sebelum jaman kemerdekaan RI. Ketika itu, katanya, kesenian dengan kostum eksentrik dan penarinya mengenakan kacamata hitam itu telah dimainkan oleh para leluhur desa. Generasi Sukiman pun juga mempelajari gerakan tarian yang gemulai dengan memainkan kipas ini dari orang tuanya.
Kini, untuk melestarikan kesenian yang diaku Sukiman merupakan kesenian asli Desa Kadirejo ini, kelompoknya juga mendidik anak-anak muda setempat menjadi  penari muda sebagai penerus. Setiap dua minggu sekali, Sukiman dan kelompoknya berlatih di rumahnya. Para penari tua muda dengan guyub rukun berlatih bersama melestarikan rodhat. “Seringkali kami harus urunan sukarela untuk mendapatkan biaya latihan maupun pemeliharaan kostum dan peralatan. Ini kesadaran sendiri untuk nguri-nguri keberadaan rodhat,” akunya polos.
Seiring dengan perjalanan waktu dan usia yang semakin tua, terbersit kekhawatiran Sukiman akan kelangsungan kesenian rodhat ini. Dia berharap dukungan dari pemerintah daerah untuk tetap menjaga kehidupan kesenian rodhat ini. “Bantuan itu sedikit banyak akan menjadi pendorong semangat kami melakoni peran sebagai penari rodhat,” pungkasnya.(*/junaedi)