Jumat, 28 November 2014

Berita dan Artikel

Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

LINK EKSTERNAL

jateng

bko



Ditulis oleh Humas dan Protokol    Rabu, 10 Agustus 2011 08:33    PDF Cetak Surel
PASAR BUKAN, HANYA ADA SAAT RAMADHAN

HUMAS-SURUH : Bagi umat Islam, Bulan Ramadhan atau bulan puasa selalu ditunggu-tunggu karena dianggap membawa keberkahan Sang Pencipta. Berkah itu mewarnai segenap unsur kehidupan tak terkecuali soal perniagaan termasuk penjualan kudapan. Pasar Bukan di Dusun Kauman Desa Suruh adalah salah satu contohnya.


Konon Pasar Bukan ini telah ada sejak puluhan tahun lalu dan hanya ada  saat Bulan Ramadhan saja. Disebut Pasar Bukan karena di tempat itu berkumpul puluhan pedagang yang menjual  aneka penganan dan berbagai makanan khas untuk berbuka puasa. Lihat saja, penganan seperti ketan lopis, kolak pisang, es buah, aneka gorengan seperti pisang goreng, tahu susur atau bahkan gendar pecel lengkap dengan pelas yang dibungkus daun pisang  sudah tergelar sejak usai shalat Asar atau sekitar pukul tiga sore. Mulai saat itu pula, masyarakat setempat dan bahkan pengunjung dari luar daerah juga menyempatkan mampir untuk membeli camilan dan keperluan berbuka puasa lainnya. Seiring datangnya waktu Maghrib atau saat berbuka puasa, berangsur-angsur para pedagang mengemasi dagangannya. Pasar Bukan sehari ini selesai untuk buka lagi sore berikutnya.  
Menurut Arif Susanto, salah seorang warga asli setempat, Pasar Bukan seperti ini telah ada sejak dia masih kecil dan menjadi tradisi khas dusun Kauman Suruh. Hanya saja ketika itu puluhan pedagang itu menggelar dagangannya tersebar di sekitar Dusun Kauman dan Pasar Desa Suruh. Sejak empat tahun lalu, atas inisiatif warga dan pemuda, para pedagang itu dikumpulkan di sepanjang jalan utama dusun ini. “Jadilah Pasar Bukan yang menampung para pedagang yang berjejer menempati jalan sepanjang kurang lebih 500 meter,” jelasnya saat ditemui Senin (8/8) sore. Selain aneka makanan dan kudapan untuk berbuka puasa, Pasar Bukan juga menyediakan makanan khas Suruh yang dikenal dengan nama “Jemunak”. Camilan ini, kata Arif, berupa ketan kenyal yang disiram dengan juruh atau kinco yakni cairan gula Jawa yang berasa sangat manis. “Makanan khas ini sudah mulai jarang dijumpai namun masih banyak dicari para penggemar,” katanya.
Selain warga setempat, para pengunjung Pasar Bukan juga berasal dari desa atau wilayah di sekitar Suruh seperti Kedungringin yang berjarak sekitar empat kilometer dari Pasar Bukan. Pasar Bukan digelar mulai hari pertama Bulan Ramadhan hingga sehari menjelang lebaran.
Salah seorang penjual, Juwaiah (60) mengaku telah berjualan aneka penganan termasuk gendar pecel, pelas dan untuk berbuka puasa sejak puluhan tahun lalu. Saat ditemui, nenek renta ini sedang beristirahat karena dagangannya telah habis. Padahal belum ada dua jam dia menggelar dagangannya. “Semua dagangan saya masak sendiri dan alhamdulillah selalu habis,” katanya yang mengaku datang dari wilayah Ploso, yang berjarak sekitar tiga kilometer dari tempatnya berjualan. Sedangkan Sunarni (56), pedagang lainnya yang warga asli Kauman, menyediakan kudapan ketan lopis khas Suruh. “Setiap hari Saya jualan di sini. Lumayan untungnya,” akunya polos. Sementara itu seorang pengunjung,Dani Haya (39) tahun mengaku sengaja datang dari Ungaran yang berjarak dua puluhan kilometer dari Suruh untuk menikmati Pasar Bukan ini. Menurutnya, pasar rakyat ini layak dikembangkan sebagai salah satu daya tarik wisata di masa mendatang. “Bisa saja Pasar Bukan Suruh ini berkembang seperti pusat jajanan tradisional untuk berbuka seperti di Kauman dan Umbulharjo Yogyakarta dan Jl MT Haryono Semarang yang telah terkenal itu,” pungkasnya.(*/junaedi)