Sabtu, 21 Oktober 2017
Ditulis oleh DISKOMINFO KAB SEMARANG    Selasa, 07 Februari 2017 19:14    PDF Cetak Surel
INILAH SOSOK PEMBUAT BATIK KRESNA KHAS KALIWUNGU

DISKOMINFO-KALIWUNGU : Bagi Sumirah (38), perempuan kelahiran Dusun Grenjeng Desa Siwal Kecamatan Kaliwungu batik adalah hidupnya. Betapa tidak sejak usia muda dan bertahun-tahun kemudian, dia menekuni pembuatan aneka jenis batik di Kota Solo. Tidak main-main, dia memasok kain batik setengah jadi ke produsen batik terkenal di Solo.  Bahkan, kain batik buatannya setelah di-finishing dan diberi label merek batik terkenal itu bisa diekspor sampai ke negeri Paman Sam dan Singapura.
Sejak setahun lalu, dia bersama sang suami Yono (40) kembali ke kampung halamannya dan tetap membuat kain batik. “Banyak orderan dari produsen batik terkenal di Solo untuk pembeli di Singapura dan Amerika Serikat. Selain itu juga membuat kain batik cap untuk konsumsi lokal dengan aneka mutu,” terangnya saat ditemui di halaman rumahnya yang juga menjadi tempat kerjanya di tepi jalan utama Dusun Grenjeng, Selasa (7/2) siang.


Kepedulian Sumirah terhadap kampung halamannya diwujudkan dengan membuat batik “Kresna”. Yakni kain batik bermotif utama tokoh pewayangan Batara Kresna berwarna ungu. Permintaan dari Camat Kaliwungu untuk membuat batik khas kaliwungu dijawabnya dengan menciptakan motif batik “Kresna”.  “Agar batik Kresna itu menjadi ikon Kaliwungu,” katanya.
Sumirah dan suaminya ternyata tak pernah membedakan pangsa pasar. Ketika pesanan dari pihak ketiga untuk pembeli dari luar negeri terus mengalir, mereka tidak lupa menggarap pasar lokal. Pesanan dari beberapa pihak di sekitar Desa Siwal pun dilayani dan dikerjakannya. Dibantu sembilan orang pekerjanya, Sumirah tak ragu menggarap pesanan lokal itu.
Harga batik untuk kelas lokal buatan Sumirah berkisar antara Rp 80 ribu – Rp 130 ribu. Untuk batik tulis ukuran dua meteran, Sumirah mematok harga Rp 150 ribu per potong.
Saat proses pengeringan kain batik setelah diwarnai,  Sumirah  sepenuhnya mengandalkan panas sinar matahari. Dia akan sangat senang jika matahari bersinar terik pada siang hari. “Kalau panasnya kurang, warnanya nggak jadi dan kain batik bisa ditolak pemesan. Kalau musim hujan seperti saat ini bisa libur kerja“ tuturnya.
Ditengah usahanya yang terus menggeliat di tanah kelahiran, sebenarnya Sumirah berharap bisa menjalin kerja sama langsung dengan pembeli dari luar negeri. Namun keterbatasan penguasaan bahasa asing membuat keinginannya itu bagai menggantang asap. “Sebenarnya pengin langsung bekerja sama dengan pembeli dari luar negeri. Tapi bahasanya nggak bisa,” katanya sambil tersenyum kecut.(*/junaedi)


 
 

Berita dan Artikel

Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

LINK EKSTERNAL

jateng

bko


epju