Rabu, 17 September 2014

Berita dan Artikel

Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

LINK EKSTERNAL

jateng

bko



Ditulis oleh Humas dan Protokol    Senin, 18 Maret 2013 14:39    PDF Cetak Surel
HIASAN AQUARIUM BRANJANG KUASAI PASAR SEMARANG

HUMAS-UNGARAN : Aneka model hiasan aquarium antara lain berupa miniatur jembatan, karang hias maupun model tumbuhan jamur atau pohon kelapa buatan pengrajin Desa Branjang Ungaran Barat terus membanjiri pasar Kota Semarang dan sekitarnya.
Adalah Rendra Mayakinasih (27), lajang warga Dusun Cemanggah Kidul RT 4 RW IV Branjang yang menekuni usaha pembuatan hiasan aquarium berbahan dasar semen dan pasir itu. Sebenarnya, dia meneruskan usaha yang telah dirintis ayahnya, Agus Riyanto sejak dua puluh tahun lalu. Ketika itu, ayahnya telah memiliki pasar yang mapan terutama di Yogyakarta dan Solo. Sentra penjualan aquarium dan aneka hiasannya di Pasar Gedhe Surakarta dan Pasar Ngasem Yogyakarta menjadi tujuan utama pemasaran produk kerajinan ini. “Saya mewarisi usaha kerajinan yang telah mapan ini dari bapak saya Agus Riyanto yang meninggal akhir tahun lalu,” katanya malu-malu saat ini ditemui sedang memamerkan hasil karyanya di halaman balai desa Branjang, Senin (18/3) pagi.

Pameran itu dilakukan menyambut kedatangan Bupati Semarang H Mundjirin yang berdialog dengan warga Desa Branjang. Ikut mendampingi Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Yosep Bambang Trihardjono, Kepala Dinsosnakertrans Romlah, Camat Ungaran Barat Haris Pranowo dan pejabat terkait lainnya.
Dijelaskan lebih lanjut oleh Rendra, usaha pembuatan hiasan aquarium masih berskala rumah tangga. Dibantu ibu dan saudara-saudaranya, Rendra mampu membuat puluhan aneka bentuk miniatur hiasan. Bahan baku hiasan itu berupa semen dan pasir. Aneka bentuk dan model hiasan miniatur peninggalan ayahnya itu didokumentasikan dengan rapi. “Kumpulan foto berbagai jenis hiasan miniatur itu menjadi semacam katalog barang yang memudahkan pemesan untuk memilih model yang disukai pasar,” terangnya lagi.
Miniatur tanaman jamur, misalnya, dihargai Rp 5 ribu. Sedangkan miniatur pohon kelapa ukuran sedang dijual Rp 7 ribu, bentuk jembatan dengan variasi pohon kelapa ukuran sedang dijual Rp 9 ribu. Satu jenis produk, jelasnya, membutuhkan waktu dua hari hingga proses finishing. Termasuk pengeringan cat anti air yang membutuhkan panas matahari yang cukup.
Dalam seminggu, rata-rata bisa mengirim barang ke pemesan dua kali dengan omzet mencapai Rp 3 juta per bulan. Puluhan pemesan yang kebanyakan para penjual aquarium dan hiasannya datang dari berbagai wilayah di Semarang, Kendal dan Demak. Rata-rata mereka memesan hiasan miniatur jembatan dan air terjun serta batu karang senilai antara Rp 400 ribu-Rp 500 ribu per orang.

Hiasan interior
Selain hiasan aquarium, Rendra juga melayani pesanan hiasan dekorasi interior rumah. Ukuran produknya lebih besar sesuai dengan kebutuhan dan keinginan pemesan. Produk berbentuk gentong yang penuh hiasan menarik berukuran 60 cm x 30 cm dijual Rp 200 ribu. Sedangkan miniatur air terjun ukuran 50 cm x 35 cm dijual Rp 250 ribu. Produk itu dijual lengkap dengan tatakan atau dudukan tempat memajang hiasan itu berukuran tinggi sekitar 30 cm.
Meski permintaan dari pedagang lokal terus mengalir, Rendra belum berniat meluaskan pasarnya. Bahkan pasar potensial di Solo dan Yogyakarta yang pernah dikelola ayahnya belum sempat dia gapai lagi. “Pembuatan produk miniatur ini membutuhkan ketrampilan tersendiri. Jadi belum ada niat menambah tenaga pembuatnya,” tuturnya.
Dibalik itu, Rendra mengalami kendala modal dan peralatan untuk mengembangkan usahanya. Peralatan seperti mesin bor yang memadai dan mesin pengering masih menjadi angannya untuk dimiliki. Dengan mesin pengering, misalnya, Rendra jadi tidak tergantung lagi pada sinar matahari untuk mengeringkan cat produk buatannya. Sedangkan mesin bor yang lebih bagus mutunya dia perlukan untuk membuat produk inovatif yang dibuatnya. “Saya baru mengajukan permohonan bantuan dana ke pemerintah desa. Semoga disetujui untuk mengembangkan usaha turun temurun ini,” tegasnya.(*/junaedi)