Rabu, 23 Agustus 2017
Ditulis oleh Junaedi    Minggu, 03 Desember 2006 05:48    PDF Cetak Surel
Menggagas Kota Ungaran Mengurai Kemacetan

Bagai seorang gadis, Kota Ungaran yang berada diketinggian rata-rata 350 meter diatas permukaan laut dengan suhu rata-rata 24-25 derajad celcius terus bersolek. Pembangunan pemukiman, fasilitas kota dan kawasan industri terus berjalan dengan pesat.

Sebagai alternatif tempat hunian, Kota yang memiliki curah hujan 2.699 mm/tahun dan terletak di lembah Gunung Ungaran ini masih menjadi pilihan yang populis. Pembukaan dan pengembangan lokasi pemukiman baru terutama di daerah Gedang anak, Leyangan dan Kalongan ikut membantu pemekaran kota. Namun perkembangan itu membawa dampak peningkatan kepadatan lalu lintas dalam maupun antar kota. Sementara jalur utama transportasi dipusat kota ternyata berkembang sangat linier.

Lalu lintas jalan protokol sepanjang Jl. Gatot Subroto depan taman unyil-Jl diponegoro hingga Karangjati sudah sangat padat terutama pada jam-jam sibuk (peak hours) pagi dan sore hari. Karenanya pilihan pembangunan jalan lingkar kota (ring road) dan jalan tol antar kota yang telah direncanakan merupakan kebutuhan mendesak untuk segera diwujudkan. Hal tersebut untuk menciptakan kenyamanan dan kelancaran lalu lintas.

Sementara penataan kota Ungaran sebagai antisipasi perkembangan kota harus dilakukan terencana dan terarah. Hal itu perlu dilakukan untuk mencegah timbulnya berbagai masalah perkotaan. Perencanaan kota yang mantap yang didasari disiplin sesuai daerah peruntukannya akan dapat menghindarkan Kota Ungaran dari pertumbuhan dan perkembangan yang tak terkendali yang merugikan.

 

Penyangga

Harus disadari pula kedudukan Kota Ungaran sebagai daerah penyangga (hinterland) Kota Semarang. Dengan fungsi ini, Kota Ungaran harus berupaya menjadi kota satelit yang memiliki daya dukung luwes. Jika tidak, alih-alih berkembang malah akan menerima ekses pembangunan Kota Semarang.

Masalah kemacetan lalu lintas, misalnya. Ada stigma tiada hari tanpa kemacetan di jalur Ungaran-Babadan-Karangjati-Bawen-Ambarawa. Kurang disiplinnya para pengguna jalan hingga keberadaan para pedagang kaki lima di bahu jalan dianggap menjadi penyebab utama kemacetan. Disamping tentu saja volume kendaraan yang melintas semakin meningkat. Ada data yang mencatat sebanyak kurang lebih 96 kendaraan bermotor melintas setiap menit di jalur utama Jawa Tengah ini. Hal ini menyebabkan ruas jalan Ungaran-Ambarawa menjadi salah satu ruas paling padat lalu lintasnya di Jawa Tengah.

PemKab Semarang sebenarnya cukup serius menangani masalah ini.Diantaranya dengan pembenahan pasar-pasar yang dianggap menajdi titik utama kemacetan. Namun upaya ini masih saja menemui banyak kendala karena permasalahannya sangat kompleks. Sementara rencana pembangunan jalan tol antar kota dan jalur lingkar yang digadang dapat mengurai kemacetan dalam kota juga masih menemui kendala untuk mewujudkannya.

Banyak pendapat sepakat jalan tol dan jalur lingkar merupakan salah satu upaya pemecahan masalah kemacetan di Kota Ungaran. Pada tahun 1983, sebenarnya Gubernur Jawa Tengah kala itu H Munadi pernah mengusulkan pembangunan jalan lingkar sayap Barat kota mulai Langensari Gebugan Nyatnyono Blanten Mapagan Sisemut hingga Taman Unyil di batas kota. Namun hingga saat ini belum dapat terwujud.

Sedangkan di sayap timur, telah ada jalur alternatif Susukan Kalongan Perkebunan Ngobo Karangjati. Namun karena kondisi geografisnya yang berkelok-kelok dan naik turun, tak banyak pengguna jalan yang mau memanfaatkannya. Hanya terjadi peningkatan volume kendaraan di jalur tersebut saat menjelang dan pada Hari Raya Idul fitri setiap tahunnya.

Pembangunan jalan lingkar diharapkan dapat terwujud sehingga Kota Ungaran tidak berkembang linier yang cenderung stagnan tapi berkembang circle atau oval yang lebih dinamis. Fasilitas jalan lingkar ini akan menjadi pendukung penumbuhan dan pengembangan kegiatan ekonomi baru di daerah pinggiran kota (suburb). Tegasnya, tanpa jalur alternatif kemacetan sepanjang Ungaran Ambarawa akan sulit terurai dan diatasi.

Disisi lain, proyeksi Kota Ungaran sebagai kota berbasis pertanian (agropolitan) merupakan pilihan tepat. Potensi alam Kota Ungaran yang memiliki sumber air dan tanah yang subur merupakan keunggulan yang tak dibantah siapapun. Karenanya, banyak para pelaku usaha agrobisnis yang melirik dan melaksanakan kegiatan perniagaannya di Kota Ungaran. Bukan tidak mungkin, seiring perjalanan waktu akan terwujud sebuah pusat niaga agro yang memadai di Kota Ungaran. Sekaligus sebagai penanda kota (landmark) yang melambungkan nama Ungaran yang konon berasal dari kata Unggul Ing Aran (Unggul dalam nama).

Menjadi sebuah idealisme, ketika Kota Ungaran yang memiliki posisi strategis di jalur emas Joglo Semar (Jogjakarta Solo Semarang) tumbuh dan berkembang dengan asri. Tak hanya sebagai tempat tinggal yang nyaman bagi para warganya. Namun juga menjadi sebuah wilayah niaga ramah lingkungan yang memberi keuntungan dan kemakmuran. Kondisi itu dapat terwujud jika seluruh komponen masyarakat mau peduli dan merasa memiliki kotanya.

Dirgahayu Kota Ungaran sebagai Ibukota Kabupaten Semarang ke 23!

 

(Junaedi, Penulis adalah redaktur pelaksana Majalah Gema Serasi Kabupaten Semarang)

 
 

Berita dan Artikel

Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

LINK EKSTERNAL

jateng

bko


epju