| AYAHKU SEMANGATKU |
|
|
|
| Minggu, 16 Desember 2007 - 21:10:59 WIB | |
|
Oleh : Agustina Miko Indriyani (Juara pertama lomba mengarang cerita mini yang diselenggarakan oleh Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Semarang di Ambarawa, medio Desember lalu) Tak terasa waktu berlalu begitu cepat berlalu, kejadian-kejadian yang menimpa selama Aku hidup didunia silih berganti. Terutama sejak meninggalnya ayah yang sangat Aku sayangi tahun 2003 sampai aku bisa duduk sebagai siswi SMA. Suatu perjuangan keras melawan dan melumpuhkan semua yang menghambat kelangsungan pendidikanku. Jika bukan karena Ayah yang mendorong dan memberi semangat luar biasa, mungkin aku sudah putus sekolah waktu duduk di SMP. Dulu, ketika Ayah masih sehat dan kuat bekerja, membanting tulang demi menghidupi kami sekeluarga, tak pernah aku melihat beliau mengeluh sedikitpun atau putus asa saat gagal panen. Ya…Ayahku adalah seorang petani desa yang memiliki lahan tidak seberapa luas dan penghasilannya tidak menentu tiap bulan, karena tergantung hasil panen yang diperolehnya. Di desa yang terpencil, jauh dari keramaian kota kecamatan apalagi kabupaten. Masyarakat sekitar yang masih kolot dan rendahnya kesadaran akan pentingnya pendidikan bagi anak-anaknya terutama anak perempuan yang menurut mereka tidak perlu pendidikan tinggi-tinggi. Karena nantinya menjadi seorang istri tidak memerlukan atau membutuhkan ijasah sekolah. Yang terpenting mengetahui 3D (dapur, dipan, dandan). Itulah masyarakat desa kami yang masih mempertahankan norma dan apa yang dilakukan orang dulu. Lain halnya dengan Ayahku, meskipun membaur dengan warga desa setempat beliau berpikiran maju dan mengusahakan bagaimana caranya agar anaknya memiliki masa depan. Tidak seperti anak perempuan di desaku, setelah lulus SD langsung menikah. Segalah daya dan upaya dikerahkan, tidak perduli apa yang dibicarakan oleh tetangga sekitar rumah kami tinggal tentang opini-opini negatif sehubungan lulusnya Aku dari SD dan akan melanjutkan ke SMP. Ayah tetap berdiri kukuh dan mempertahankan apa yang menurutnya benar. Karena menyekolahkan Aku ke jenjang yang lebih tinggi bukan suatu kesalahan besar, sebab beliau mempunyai cita-cita kelak anaknya akan hidup lebih baik daripada orang tuanya. Larangan untuk menyekolahkan Aku juga datang dari ibuku sendiri. Aku memang bukan anak satu-satunya, masih ada dua adikku yang kecil-kecil. Mereka lelaki semua. Ibu, yang asli penduduk desa kami juga masih berpikiran kebanyakan orang desa bahwa laki-laku harus diutamakan terlebih dahulu daripada perempuan. Karena takut pada Ayah, akhirnya ibu memperbolehkan Aku melanjutkan pendidikan. Awalnya Aku ragu, sebab kondisi keuangan Ayah tidaklah baik. Tahun ini Ayah gagal panen. Untuk masuk sebagai siswi SMP favorit selain memiliki prestasi baik, juga harus mempunyai dana yang tidak sedikit jumlahnya. Aku mengatakan segala yang ada dalam otak dan meresahkanku akhir-akhir ini pada Ayah bahwa Aku tidak apa-apa seandainya tidak melanjutkan SMP. Tapi apa yang terjadi, Ayah marah padaku karena Aku begitu mudahnya menyerah dan pasrah pada keadaan. Lalu Aku berpikir dalam hati, “Ayah saja mau bekerja keras, mengusahakan bagaimana caranya Aku bisa sekolah. Kenapa Aku yang tinggal berusaha supaya diterima dan belajar, lesu dan menyerah?” Sejak itu, seperti ada kekuatan baru dan semangat yang luar biasa hidup dalam hidupku. Perkataan Ayah yang membuatku untuk terus maju dan menjadi pedoman untukku melangkah menghadapi masa depan yang tidak mudah adalah, “Asalkan Kamu mempunyai tekad, kemauan dan usaha serta terus berdoa memohon pada yang mempunyai kehidupan ini, ketahuilah dan percayalah kelak Kamu akan menjadi orang yang besar dan membanggakan bagi negeri ini. Sedang Ayah hanyalah sebagai perantara yang dipercayakan untuk menemani dan mengantarmu sampai gerbang masa depan dengan apa yang bisa Ayah usahakan dan hasilkan untuk Kami.” Kalimat yang penuh makna dan berarti tersebut, Aku resapi jauh ke dasar hati yang paling dalam sampai mendarah daging menyatu dengan tubuh. Hari demi hari, Ayah berusaha keras mencari dana dengan keringatnya sendiri agar bisa mencukupi biaya yang diminta dari pihak sekolah. Kadang Aku mendengar ejekan dari tetangga sekitar dan kebetulan Ayah juga ada diantara mereka. Seperti tersayat-sayat oleh pisau tajam hatiku ini mendengar perkataan yang begitu menyakitkan, tapi apa yang disikapi Ayah jauh berbeda denganku. Beliau hanya tersenyum dan membalas perkataan mereka tanpa mengurangi tata etika berbicara. Hal yang membanggakan juga buatku, mulut mereka yang tadinya seperti burung beo langsung terkunci rapat. Hingga semua dana terkumpul dan memenuhi persyaratan, Ayah langsung mendaftarkan Aku ke SMP favorit yang dibanggakan warga sekitar sekolah tersebut. Setelah mengalami proses yang panjang seperti pendaftaran, wawancara, tes tertulis dan menunggu dengan cemas keputusan pihak sekolah. Apakah Aku diterima atau tidak akhirnya usai sudah. Aku diterima sebagai siswi sekolah tersebut dan yang lebih membuat Ayah bangga, Aku mendapat peringkat paling atas mengalahkan 295 orang yang diterima. Usaha keras, kerjanya dari pagi sampai petang, doa yang tiada putus-putusnya tidak sia-sia dan saat itu Aku dapat melihat dari raut wajah Ayah yang menandakan kebanggaan dan kegembiraan tanpa beban. Ejekan dari orang-orang desa, larangan ibu untuk menyekolahkan Aku, pergulatan yang ada pada dirinya, kekhawatiran serasa lepas dari pundaknya dan otot-otot yang menegang melemas kembali. Hari itu Aku merasakan bagaimana Tuhan ikut campur tangan dalam setiap pekerjaan yang Ayah lakukan. Setiap hari Aku bertambah hikmat dan Ayah semakin giat bekerja mencari uang untukku sekolah dan adik-adikku yang juga sudah beranjak besar. Pertengahan semester dua, tiada badai dan angin yang menerpa kehidupan kami. Ayah divonis mengidap penyakit tumor otak. Waktu itu, berhari-hari Ayah mengalami pusing yang luar biasa dan sering kudengar jeritannya tengah malam, begitu menakutkan. Sampai akhirnya Ayah pergi ke dokter dan hasil laboratorium mengatakan yang tidak ingin Ayah ataupun kami dengar. Kesehatan Ayah semakin berkurang, beliau hanya bisa tiduran di ranjang. Dan Aku gelisah dengan kelanjutan pendidikanku. Karena secara otomatis kondisi keuangan Ayah lumpuh total. Tetapi Ayah seperti sifatnya tidak begitu saja menyerah dengan keadaan, meski sudah tidak bekerja, setiap hari ia memberikan dorongan, nasehat-nasehat dan semangat kepadaku. Katanya hari itu, “Ayah tidak ingin melihat putrid cantik di depan Ayah ini putus sekolah karena keadaan ini. Meski sudah tidak bekerja tapi Ayah yakin dengan doa yang dipanjatkan Tuhan akan memberi sebuah terang dan titik temu. Karna Ayah percaya dengan mukjizat Tuhan. Entah lewat siapa saja. Ayah tahu dan mengerti semua jerih payah yang Kamu lakukan, keseriusanmu dan yang membuat Ayah bangga prestasimu yang semakin meningkat. Ayah hanya berpesan jangan putus asa jadilah dirimu sendiri, Kamu harus mempunyai prinsip hidup yang kelak dan membawamu pada masa depan yang cerah. Ingat pesan Ayah itu.” Setelah hari itu, penyakit yang sudah menjalar ke saraf-saraf yang mempunyai peran penting tidak dapat disembuhkan dan dokter angkat tangan. Dan hari itu juga Ayah yang sangat Aku banggakan dan sayangi pulang pada bapa dengan tenang tepat satu hari sebelum hari ulang tahunku ke 14 yaitu tanggal 2 Februari 2003. Ayahku memang sudah tiada, tapi semangatnya, kegigihannya, kerja kerasnya, perjuangan tanpa mengenal keluh kesah akan selalu hidup dalam jiwa dan ragaku. Satu pesan yang akan selalu Aku jadikan pedoman dan tidak pernah kulupakan pada saat terakhirnya adalah, “Kamu anakku tidak akan kehilangan tetapi malah akan mendapatkan.” Meski sekarang Aku belum mengerti maksud dari perkataan Ayah tersebut, tapi kuyakin suatu hari nanti seiring berjalannya waktu pasti kutemukan makna dari ucapan ayah. Sekarang tugas yang berat menanti untukku bertanggung jawab kepada Ayah di surga sana yaitu melanjutkan pendidikanku setinggi-tingginya. Satu kalimat yang ingin kuucapkan sebagai tanda terima kasihku pada Ayah adalah, “Ayah Kau pahlawanku, semangatku.”(*/penulis adalah siswi SMK Masehi PSAK Ambarawa) |

























